Sabtu, 07 Januari 2017

HIKMAH DALAM IBADAH UMROH

HIKMAH DALAM IBADAH UMROH
Hikmah adalah makna yang terkandung dalam amalan fisik atau rahasia yang tersirat di balik amalan fisik. Syariat adalah amalan dhahir. Hakikat adalah intinya. Jika setiap amalan menyatu antara hakikat dan syariatnya akan mewujudkan hasil yang menakjubkan.
Agar ibadah umroh dapat meningkatkan kualitas keimanan seseorang, maka selayaknya hikmah umroh dicermati oleh setiap orang yang menunaikannya.
Kewajiban Ibadah umroh mengandung banyak hikmah besar dalam kehidupan rohani seorang muslim, dan tentunya mengandung kemaslahatan bagi seluruh ummat Islam dari segi dunia dan akhirat. Diantara hikmah itu nampak ketika kita melakukan proses ibadah umroh itu sebagai berikut:
<![if !supportLists]>1.    <![endif]>IHROM
Ihrom berarti mengharamkan, mengalalkan dan memasuki tanah suci. Ihrom mengisyaratkan keharusan untuk melepaskan sifat-sifat buruk, seperti bangga dengan pakaian yang biasanya melekat di tubuh kita, yang melahirkan sifat sombong, bangga dan takabbur, maka dengan berpakaian Ihram menggambarkan betapa hina dan miskinnya kita dihapan Allah SWT, mengingatkan kita bahwa sesungguhnya kita lahir tanpa busana sama sekali dan ketika kita meninggal kita pun hanya di bungkus pakaian yang tak berjahit.
Ketika berihram maka bukan hanya pakaian kita yang ihram tapi sesungguhnya tubuh hati serta tingkah laku kita turut pula berihram, setelah tubuh kita meninggalkan kemewahan maka tubuh yang ihram pun meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tercela, mulut kita harus dibatasi dengan hanya mengucapkan kalimat-kalimat dzikir, yang tentunya menghindar dari kata-kata yang membawa kepada sifat fasik, pertengkaran bahkan kalimat yang mubah tapi tidak membawa faedah. Sungguh sebuah penempaan diri yang luar biasa.
Dengan memahami makna simbol “pakaian ihram” diharapkan para hujjaj/mu’tamirin setelah pulang dari tanah suci tidak lagi melakukan larangan-larangan agama atau dengan kata lain, para hujjaj/mu’tamirin seharusnya melarang dan mengharamkan dirinya dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
<![if !supportLists]>2.    <![endif]>THAWAF
Thawaf merupakan rukun yang tidak mudah ditangkap simbolisme yang terkandung di dalamnya. Bergerak mengelilingi Ka’bah tujuh kali, memiliki makna yang sangat dalam bagi hidup dan kehidupan setiap manusia dalam totalitas dimensinya, bukan hanya dalam konteks ritual atau kepentingan akhirat semata.
Tawaf mengandung makna bahwa gerak hidup setiap manusia, bukanlah sekedar untuk hidup itu sendiri, melainkan segala gerak hidup itu terjadi dan menuju kepada Allah SWT. Allah SWT sebagai pusat pusaran gerak manusia, sebagai pusat orbit gerakan kehidupan manusia.
Thawaf dilakukan dengan penuh penghayatan akan kehadiran Allah SWT, berzikir , berdoa dan memohon ampun kepada-Nya. Ini melambangkan agar setiap manusia harus selalu beribadah kepada Allah SWT dengan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap hari, mengingat kepada-Nya, berzikir, berdoa dan memohon ampun kepada-Nya.
Mengecup batu hitam tersebut juga merupakan lambang bahwa ibadah harus dilakukan dengan penuh kecintaan kepada Allah SWT. Ibadah dilakukan bukan untuk tujuan dunia, bukan tujuan sementara tetapi hanya dengan tujuan mengharapkan keridhaan Allah SWT dengan penuh rasa cinta kepada-Nya. Sebagaimana tawaf yang dilakukan sebanyak tujuh kali ini.
<![if !supportLists]>3.    <![endif]>SA’I
Sa’i berarti bertindak, berbuat, berusaha (berikhtiar), sedangkan Shafa berarti suci, bersih dan Marwah berarti santun. Kalau kita gabungkan dari ketiga kata tersebut di atas, maka memiliki makna bertindak, berbuat dan berusaha dengan cara yang bersih dan santun untuk mendapatkan sesuatu.Menurut sejarah, Sa’i dari bukit Shafa dan Marwah dilakukan pertama kali oleh Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim as. Pada saat itu, ia ingin mendapatkan air untuk anaknya, Ismail yang sedang menangis. Setelah 7 kali bolak-balik antara Shafa dan Marwah baru mendapatkan air tersebut.
<![if !supportLists]>4.    <![endif]> TAHALLUL
Sa’i adalah pembebasan, pelepasan, pembolehan, penghalalan, pengampunan, dll. Tahallul dilakukan dengan menggunting atau mencukur sebagian rambut sekurang-kurangnya 3 helai. Secara syar’i, tahallul berarti membolehkan atau menghalalkan segala sesuatu yang sebelumnya dilarang karena berihram.
Secara filosofis, kewajiban bercukur dalam rangkaian ibadah umroh adalah sebuah penghalalan akan sesuatu yang tadinya haram. Keharaman sesuatu itu terletak di dalam pikiran yang ada di kepala kita. Rambut adalah salah satu simbol akan realita pertumbuhan makhluk, sekaligus menjadi petunjuk bahwa asal dari sesuatu yang terjerat dalam hukum pertumbuhan adalah haram.
Pesan yang disampaikan dalam pemotongan rambut itu adalah sebuah kesadaran akan adanya Tuhan yang menjadi asal muasal manusia, “sesungguhnya kita milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya” (innaa lillaahi wa-innaa ilayhi raaji’uun). Karena itu, potonglah sesuatu yang tumbuh (berupa rambut) sebagai simbolisasi dari ketuntasan ibadah umroh yakni kesadaran tertinggi manusia tentang Tuhan.
Semoga dengan rontoknya ribuan rambut di kepala ketika ia bertahallul, maka rontok juga ribuan keangkuhan dan kesombongannya. Kemabrurannya membawa berkah bagi sekalian alam dan lingkungan sekitarnya. Amiin…
Surat al-Fath ayat 27 : 
لَقَدْ صَدَقَ اللهُ رَسُوْلَهُ الرُّأْياَ بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ اْلمَسْجِدَ اْلحَرَامَ إِنْ شَآءَ اللهُ آمِنِيْنَ مُحَلِّقِــــــــْينَ رُؤُوْسَكُمْ وَمُقَـــــصِّرِيْنَ لاَ تَخَافُوْنَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذَالِكَ فَتْــــــحًا قَرِيْبًا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah telah membenarkan Rasul-Nya tentang kebenaran mimpi yang akan menjadi kenyataan, yaitu engkau beserta penduduk Makkah lainnya akan memasuki kota Makkah Insya Allah dengan aman dalam keadaan kepala yang sudah dicukur rata atau sekedar dipendekkan saja, tanpa rasa takut (terhadap kaum musyrik), Dia (Tuhan) mengetahui apa yang tidak kamu ketahui itu, dan menjadikan di balik (yang tidak kamu ketahui) itu, kemenangan dalam waktu dekat”.
IBADAH UMROH
Umroh  : berkunjung ke Baitullah Ka’bah untuk melakukan  thawaf, sa’i dan Tahallul/bercukur.
<![if !supportLists]>1.    <![endif]>Syarat Wajib Umroh:
<![if !supportLists]>a.    <![endif]>Islam
<![if !supportLists]>b.    <![endif]>Baligh
<![if !supportLists]>c.    <![endif]>Berakal sehat
<![if !supportLists]>d.   <![endif]>Merdeka (tidak budak sahaya)
<![if !supportLists]>e.    <![endif]>Mampu.
<![if !supportLists]>1)   <![endif]>Kendaraan
<![if !supportLists]>2)   <![endif]>Bekal materi
<![if !supportLists]>3)   <![endif]>Keamanan jiwa dan harta
<![if !supportLists]>4)   <![endif]>Fisik
<![if !supportLists]>5)   <![endif]>Cukup waktu
<![if !supportLists]>2.    <![endif]>Rukun Umroh :
<![if !supportLists]>a.    <![endif]>Niat
<![if !supportLists]>b.    <![endif]>Thawaf
<![if !supportLists]>c.    <![endif]>Sa’i
<![if !supportLists]>d.   <![endif]>Tahallul /Bercukur
<![if !supportLists]>1)   <![endif]>Lafadh niat umroh :
نَوَيْتُ العُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهَا لِلَّهِ تَعاَلَى
Nawaitul umrata wa achramtu biha lillahi ta’ala.
<![if !supportLists]>2)   <![endif]>Thawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran dimulai dan berakhir di sudut Hajar Aswad
<![if !supportLists]>3)   <![endif]>Sa’i adalah menempuh jarak antara bukit shafa sampai bukit Marwa 7 putaran, dimulai dari shafa dan berakhir di marwa
<![if !supportLists]>4)   <![endif]>Tahallul umroh ialah keadaan seseorang telah menjadi halal kembali dari larangan ihrom setelah selesai menjalankan semua rukun umroh yang  ditandai dengan mencukur rambut kepala minimal 3 helai rambut yang dilakukan setelah selesai menjalani sa’i.
Rukun tersebut harus dilakukan berurutan (tertib)
THAWAF
<![if !supportLists]>1.      <![endif]>Wajib Thawaf:
<![if !supportLists]>a.      <![endif]>Suci dari hadas dan najis
<![if !supportLists]>b.      <![endif]>Menutup aurat
<![if !supportLists]>c.      <![endif]>Niat
<![if !supportLists]>d.     <![endif]>Menyempurnakan  7 putaran
<![if !supportLists]>e.      <![endif]>Berawal dan berakhir di sudut  Hajar Aswad
<![if !supportLists]>f.       <![endif]>Ka’bah berada di sebelah kiri
<![if !supportLists]>g.      <![endif]>Di dalam Masjid
<![if !supportLists]>h.      <![endif]>Anggota badan dan pakaian berada di luar batas Ka’bah dan Hijr Isma’il
<![if !supportLists]>2.      <![endif]>Sunnah Thawaf ;
<![if !supportLists]>a.       <![endif]>Berkesinambungan antara satu putaran dengan putaran berikutnya
<![if !supportLists]>b.      <![endif]>Berjalan kaki bagi yang mampu
<![if !supportLists]>c.       <![endif]>Menyelendangkan kain ihrom di pundak kiri dengan pundak kanan terbuka ( bagi pria )
<![if !supportLists]>d.      <![endif]>Berjalan cepat bagi pria pada 3 ( tiga ) putaran pertama untuk thawaf yang diikuti Sa’i
<![if !supportLists]>e.       <![endif]>Mencium Hajar Aswad / mengusap atau isyarat dengan tangan dan menciumnya
<![if !supportLists]>f.       <![endif]>Mengusap atau berisyarat pada  Rukun ( sudut ) Yamani
<![if !supportLists]>g.      <![endif]>Dzikir dan berdo’a.
<![if !supportLists]>h.      <![endif]>Shalat dua raka’at dan berdo’a di belakang Maqam Ibrahim.
SA’I
<![if !supportLists]>1.      <![endif]>Syarat Wajib Sa’i ;
<![if !supportLists]>a.       <![endif]>Setelah Thawaf yang sah
<![if !supportLists]>b.      <![endif]>Memulai Sa’i dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwa.
Dari shafa ke marwa terhitung 1 kali dan dari marwa ke shofa terhitung 1 kali
<![if !supportLists]>c.       <![endif]>Berada di Mas’a (Tempat Sa’i )
<![if !supportLists]>d.      <![endif]>Berniat Sa’i (tidak untuk kepentingan lain)
<![if !supportLists]>2.      <![endif]>Sunnah Sa’i ;
<![if !supportLists]>a.         <![endif]>Suci
<![if !supportLists]>b.        <![endif]>Berdzikir dan berdo’a
<![if !supportLists]>c.         <![endif]>Berkesinambungan
<![if !supportLists]>d.        <![endif]>Lari-lari kecil (bagi pria) antara dua pilar hijau
TAHALLUL
            Tahallul umroh ialah keadaan seseorang telah menjadi halal kembali dari larangan ihrom setelah selesai menjalankan semua rukun umroh yang  ditandai dengan mencukur rambut kepala minimal 3 helai rambut yang dilakukan setelah selesai menjalani sa’i.
Disunnahkan untuk bapak mencukur rambut kembali secara keseluruhan dalam melakukan tahallul.
WAJIB UMROH
WAJIB UMROH ADA 2:
<![if !supportLists]>1.      <![endif]>Niat Ihrom dari miqat.
Miqat ialah tempat dan waktu untuk melakukan ihrom.
Miqat ada 2 yaitu makani dan zamani
<![if !supportLists]>a.    <![endif]>Miqat zamani, batas untuk menjalani umroh dan nusuk. 
Miqat zamani umroh ialah sepanjang masa selama tidak sedang menajalani kewajiban haji.
<![if !supportLists]>b.    <![endif]>Miqat makani adalah batas tempat untuk memulai ihrom.
      Miqat makani ada 2 yaitu: makki & ufuqi.
<![if !supportLists]>1)   <![endif]>Makki adalah orang yang berada di Makkah ( penduduk  makkah muqimin atau jama'ah yang berada di makkah.
Miqat makani umroh bagi orang yang berada di makkah ialah keluar dari tanah haram, utamanya di tempat miqat sbb:
<![if !supportLists]>a)    <![endif]>Ji'ranah
<![if !supportLists]>b)   <![endif]>Hudaibiyyah
<![if !supportLists]>c)    <![endif]>Tan'im.
<![if !supportLists]>2)   <![endif]>Ufuqi adalah jama'ah yang datang dari luar makkah.
Miqot makani umroh bagi ufuqi adalah :
<![if !supportLists]>a)    <![endif]>Bir ali, bagi jama'ah yang datang dari Madinah.
<![if !supportLists]>b)   <![endif]>Qarnul manazil/diatas pesawat + 1 jam sebelum mendarat di Air port King Abdul Aziz Jeddah   dan tempat lain seperti Juhfah, yalamlam, Dzatu irqin.       
<![if !supportLists]>2.      <![endif]>Menjauhi larangan – larangan  ihrom.
SUNNAH UMROH
<![if !supportLists]>1.      <![endif]>Berdo’a setelah talbiyah
<![if !supportLists]>2.      <![endif]>Berdzikir / do’a di saat thowaf dan sa’i
<![if !supportLists]>3.      <![endif]>Memakai dua helai pakaian ihrom warna putih.
Catatan
Macam-macam Thawaf :
<![if !supportLists]>1.        <![endif]>Thawaf Qudum
       Thawaf qudum merupakan penghormatan terhadap Baitullah, thawaf qudum. Thawaf qudum hukumnya sunnah. Waktu pelaksanaan thawaf qudum pada hari pertama kedatangan di Makkah.Bagi jama’ah umroh tidak disunnahkan thawaf qudum karena thawaf qudumnya sudah termasuk dalam thawaf umroh pertama.
<![if !supportLists]>2.        <![endif]>Thawaf Rukun Umroh
<![if !supportLists]>3.        <![endif]>Thawaf Rukun haji
       Thawaf rukun haji disebut juga thawaf ifadlah atau thawaf ziarah
<![if !supportLists]>4.        <![endif]>Thawaf Sunnah
       Thawaf sunah merupakan thawaf yang dapat dikerjakan pada setiap kesempatan dan tidak diikuti dengan sa’i
<![if !supportLists]>5.        <![endif]>Thawaf Wada’
       Thawaf Wada’ merupakan penghormatan akhir pada Baitullah. Waktu pelaksanaan thawaf wada’ setelah ada ketentuan untuk meninggalkan Makkah. Hukum melakukan thawaf wada’ adalah wajib bagi jamaah haji yang akan meninggalkan Makkah. Bagi jamaah haji yang tidak melakukan thawaf wada’ diwajibkan membayar dam kambing kecuali wanita haidl tidak wajib thawaf wada’
IHROM & MUHARROMATUL IHROM
<![if !supportLists]>1.      <![endif]>Ta'rif Ihrom
Ihrom ialah: Niat memasuki ibadah haji atau Umroh pada waktu dan tempat yang telah ditentukan dengan mengharamkan hal-hal yang dilarang selama berihrom.
(Niat Umroh)
نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَاَحْرَمْتُ بِهِا ِللهِ تَعَالىَ                                                                                                                                           
Waktu dan tempat berihrom disebut MIQAT.
Istilah ihrom sering diartikan dengan menyandang dua lembar kain yang tak berjahit bagi lelaki , karena awal dimulainya berhaji atau Umroh adalah dengan menyandang dua lembar kain yang tak berjahit dan memakai pakian yang menutup seluruh anggota tubuh kecuali muka dan dua telapak  tangan
bagi wanita.
<![if !supportLists]>2.    <![endif]>Tata Cara Berihrom
<![if !supportLists]>a.    <![endif]>Wajib Ihrom
<![if !supportLists]>1.    <![endif]>Menempatkan niat di tempat Miqat
<![if !supportLists]>2.    <![endif]>Berpakaian tak berjahit bagi pria
<![if !supportLists]>3.    <![endif]>Menutup  semua tubuh kecuali muka & telapak tangan bagi  wanita.
<![if !supportLists]>b.    <![endif]>Sunnah Ihrom
Beberapa langkah yang dilakukan bagi orang yang hendak berihrom sebagai berikut :
<![if !supportLists]>-  <![endif]>Membersihkan anggota badan :
<![if !supportLists]>ü  <![endif]>Memotong kuku
<![if !supportLists]>ü  <![endif]>Memotong kumis
<![if !supportLists]>ü  <![endif]>Membersihkan rambut ketiak
<![if !supportLists]>ü  <![endif]>Membersihkan bulu kemaluan
<![if !supportLists]>ü  <![endif]>Mandi, walau dalam kondisi haid atau nifas
لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ وَهِىَ نُفَسَاءُ اَنْ تَغْتَسِلَ ( رواه مسلم )
Liannannabiyya SAW amara Asmaa binti Umaisin Wahiya nufasau antaghtasila ( HR. Muslim)       
Kerana sesungguhnya nabi memerintahkan Asma bt. Umais untuk mandi ihrom ketika dia sedang dalam keadaan nifas. 
<![if !supportLists]>-  <![endif]>Memakai wangi-wangian pada badan sebelum mengenakan
pakaian ihrom
<![if !supportLists]>-  <![endif]>Memakai pakaian ihrom warna putih dan baru
وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ : اَنَّ  رَسُـْولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلْبِسُوْا مِنْ ثِيَابِكُمُ البَيَاضَ فَاِ نَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوْا فِيْهَا مَوْتَاكُمْ (رواه الترمذي)
Ruwiya anibni Abbasin radliyallahu ‘anhu:  anna rasulallahi SAW qala : Albisu min tsiyabikumul bayadl fainnaha min khairi siyabikum wakaffinu fiha mautakum. ( HR. Attirmidzi )
Diriwayatkan dari ibni Abbas RA sesungguhnya rasulullah SAW berkata: Berpakaianlah dari pakaian putihmu sesungguhnya  pakain warna putih adalah pakaian terbaik bagimu dan kafanilah jenazahmu dengan warna putih. HR.Tirmidzi.         
<![if !supportLists]>-  <![endif]>Memakai alas kaki yang tidak menutupi tumit dan ujung jari -  jari
<![if !supportLists]>-  <![endif]>Merapikan rambut kepala
<![if !supportLists]>-  <![endif]>Shalat sunnat ihrom 2 rakaat
<![if !supportLists]>-  <![endif]>Bertalbiyah yang diucapkan setalah niat.
Lafadl talbiyah
لبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ¹ لَبَّيْكَ لاَ شَريْكَ لَكَ لبَّيْكَ¹ إنَّ الحَمْدَ والِّنعْمَةَ لكَ وَالُملْكَ لاَ شَرِيْكَ لَك¹ 
Labbaikallahummalabaik, labbaika la syariika laka labaik Innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa syarikala lak.
Artinya: Aku penuhi panggilannmu ya Allah. Tiada sekutu bagimu. Sesungguhnya segala puji dan  keni’matan serata kerajaan adalah milikmu.
<![if !supportLists]>3.    <![endif]>Hal – hal Yang diperbolehkan dalam berihrom.
Selama berihrom boleh – boleh saja melakukan tindakan   sebagai berikut:
<![if !supportLists]>a.       <![endif]>Mandi, dengan tetap menjaga larangan – larangan ihrom
<![if !supportLists]>b.      <![endif]>Mengganti pakaian ihrom karena alasan apapun
<![if !supportLists]>c.       <![endif]>Berteduh di bawah pohon, payung atau hal – hal yang dapat smelindungi diri
<![if !supportLists]>d.      <![endif]>Memakai sabuk ihrom, tas pinggang untuk menyimpan barang berharga, jam tangan, cincin selain emas bagi laki – laki
<![if !supportLists]>e.       <![endif]>Membunuh hewan yang mengganggu seperti ular, tikus, kala jengking.
<![if !supportLists]>4.    <![endif]>Larangan Ihrom
<![if !supportLists]>a.    <![endif]>Jenis larangan Ihrom
<![if !supportLists]>1)   <![endif]>Itlaf.
Italf adalah pelanggaran ihrom yang besifat merusak seperti memotong rambut, memotong kuku.
<![if !supportLists]>2)   <![endif]>Taraffuh adalah pelanggaran ihrom yang bersifat kesenangan seperti berwangian.
Larangan ihrom yang berupa itlaf baik disengaja atau tidak dan mengerti hukumnya atau tidak tatap dikenakan dam / fidyah. Jika disengaja ia berdosa dan jika tidak disengaja tidak berdosa. Larangan yang bersifat taraffuh jika dilakukan karena lupa atau tidak mengerti hukumnya maka tidak berdosa dan tidak terkena dam / fidyah. Jika disengaja berdosa dan dikenakan dam/fidyah. Jika karena udzur semisal sakit maka tidak berasa tetapi terkena dam/fidyah.
Catatan:
<![if !supportLists]>a.         <![endif]>Larangan yang membatalkan umroh dan dikenakan dam, yaitu bersetubuh dengan istri/suami sebelum melaksanakan tahallul
<![if !supportLists]>b.         <![endif]>Larangan yang tidak membatalkan umroh tetapi dikenakan dam atau fidyah, yaitu semua larangan ihrom selain yang disebut di atas, dikerjakan dengan sengaja dan mengerti hukumnya
<![if !supportLists]>c.         <![endif]>Larangan yang tidak membatalkan dan tidak dikenakan dam/fidyah, seperti mengumpat, rafas, fusuq,jidal  maksiat tetapi mengurangi nilai kemabruran haji/umroh.
<![if !supportLists]>5.    <![endif]>Hal – hal yang harus dihindari selama berihrom
<![if !supportLists]>a.    <![endif]>Khusus untuk pria.
<![if !supportLists]>1)   <![endif]>Memakai pakain yang berjahit meliputi badan
<![if !supportLists]>2)   <![endif]>Menutup kepala yang melekat, seperti topi. Kalau tidak melekat boleh, seperti payung. 
<![if !supportLists]>3)   <![endif]>Memakai sepatu yang menutup tumit dan ujung jari.
<![if !supportLists]>b.    <![endif]>Khusus Wanita
<![if !supportLists]>1)   <![endif]>Menutup wajah
<![if !supportLists]>2)   <![endif]>Memakai sarung tangan.
<![if !supportLists]>c.    <![endif]>Untuk pria & Wanita
<![if !supportLists]>1)   <![endif]>Jima' dan tindakan yang mengundang syahwat, berupa gerakan atau ucapan
فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوْقَ وَلاَ جِدَالَ فِى الْحَجِّ ( البقرة 198)
Falaa rofatsa walaa fusuuqo walaa jidala filhajj
Artinya: Dalam berhaji tidak boleh rafas, fusuk dan tidak pula jidal.
<![if !supportLists]>2)   <![endif]>Aqad nikah, jika orang berihrom melakukan aqad nikah maka nikahnya batal
<![if !supportLists]>3)   <![endif]>Memotong kuku dan mencukur /mencabut rambut
 وَلاَ تَحْلِقُوْا رُؤُسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ.
Wala tahliqu ruusakum hatta yablughalhadyu mahillah
Dan janganlah mencukur rambutmu sampai melaksanakan penyembelihan kambing hadyu.
<![if !supportLists]>4)   <![endif]>Memakai wangi-wangian
<![if !supportLists]>5)   <![endif]>Berburu binatang buruan hewan darat liar yang halal dimakan
<![if !supportLists]>6)   <![endif]>Merusak ( memotong, mencabut ) tanaman tanah harom
اِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَـرَّمَهُ اللهُ تَعَالىَ وَلاَ َيُعْضَدُ شَوْكُهُ وَلاَ يُنْفَـرُصَيْدُهُ وَلاَ يُلْتَقَطُ لُقَطَتُهُ اِلاَّ مَنْ عَرَّفَهَا متفق عليه
Sesungguhnya daerah ini Allah SWT telah mengharamkannya (memulyakan ), tidak boleh dipotong tanamannya dan tidak boleh diusir hewan buruannya dan tidak boleh ditemu harta temuannya kecuali bermaksud mengumumkannya.
<![if !supportLists]>7)   <![endif]>Memakai minyak rambut kepala dan jenggot meskipun tidak wangi
DAM & KIFARAT
Dam dalam arti bahasa adalah darah, dalam arti istilah adalah mengalirkan darah dengan cara menyembelih ternak berupa   kambing, sapi, unta di tanah harom dalam rangka memenuhi ketentuan manasik haji atau umroh.
Dam terdiri dari 2 jenis yaitu:
<![if !supportLists]>a.       <![endif]>Dam Nusuk ( karena ketentuan manasik dan bukan karena pelanggaran) dikenakan bagi yang melakukan haji tamattu’ atau qiron.
<![if !supportLists]>b.      <![endif]>Dam isa’ah adalah dam yang diwajibkan akibat pelanggaran larangan ihrom.
Macam-macam Dam:
<![if !supportLists]>1.      <![endif]>Tartib Taqdir;
Tartib artinya berurutan, tidak boleh memilih yang ke dua kecuali jika tidak mampu pada yang pertama.
Taqdir artinya sudah ditentukan, tidak boleh diganti dengan nilai/harga dan tidak boleh ditambah atau dikurangi.
Dam Tartib Taqdir adalah memotong seekor kambing, jika tidak mampu, maka berpuasa 3 (tiga) hari dalam keadaan berihrom haji, dan 7 (tujuh) hari setelah pulang di tanah air.
<![if !supportLists]>2.      <![endif]>Tartib Ta’dil;
Tartib artinya dam dilakukan dengan tertib, jika dapat memilih yang pertama atau sebanding lainnya.
Ta’dil artinya dinilai dengan sebanding yang lain.
<![if !supportLists]>3.      <![endif]>Takhyir Ta’dil;
Takhyir artinya boleh memilih antara memotong hewan dam dan digantikan dengan memberi makan kepada fakir miskin makkah senilai dengan hewan tersebut.
Ta’dil artinya dinilai dengan sebanding yang lain.
Dam Takhyir Ta’dil adalah memilih antara memotong hewan yang telah ditentukan atau menilainya dengan uang dan membelikannya makanan kemudian memberikannya kepada fakir miskin Makkah.
<![if !supportLists]>4.      <![endif]>Takhyir Taqdir;
Takhyir artinya memilih ke hal yang lain meskipun mampu.
Taqdir artinya sudah ditentukan, tidak boleh ditambah atau dikurangi.
Dam Takhyir Taqdir adalah memilih antara memotong kambing atau bersedekah 3 Sha’ (7,5 kg) untuk 6 orang  atau puasa 3 hari.
Penyebab Dam
<![if !supportLists]>1.      <![endif]>Tartib Taqdir; Tamattu’, Qiran, tidak wuquf di Arafah,  tidak berihrom dari miqat, tidak mabit di Muzdalifah, tidak mabit di Mina, tidak melontar Jumroh, tidak melakukan  thawaf wada’ dan meninggalkan perintah ( kewajiban ).
<![if !supportLists]>2.      <![endif]>Tartib Ta’dil; Tidak bisa meneruskan ibadah umroh dan bersetubuh sebelum tahallul
<![if !supportLists]>3.      <![endif]>Takhyir Ta’dil; Membunuh binatang buruan darat dan memotong tanaman tanah haram.
Takhyir Taqdir, Bercukur, memotong kuku, memakai wangi-wangian, memakai minyak rambut, memakai pakaian berjahit (meliput) . Keterangan :
<![if !supportLists]>1.        <![endif]>Waktu pelaksanaan Dam
<![if !supportLists]>a.       <![endif]>Waktu pelaksanaan dam dimulai sejak selesai umroh
<![if !supportLists]>b.      <![endif]>Penyembelihan dam wajib dilakukan hanya di tanah harom Makkah dan dibagikan kepada fakir miskin yang berada di makkah. Dam tidak sah disembelih di luar tanah haram Makkah.
<![if !supportLists]>2.        <![endif]>Syarat Dam umroh
<![if !supportLists]>a.     <![endif]>Bukan penduduk Makkah
<![if !supportLists]>b.    <![endif]>Umroh dilaksanakan dalam bulan haji dan tidak kembali ke miqot sampai pelaksanaan ibadah haji
Urutan Pelaksanaan Umroh
N0
Kegiatan
Hukum
01
Bersuci / Mandi Ihrom
Sunnah
02
Shalat Sunnat Ihrom
Sunnah
03
Berpakaian Ihrom
Wajib
04
Berpakaian ihrom warna putih
Sunnah
04
Niat Ihrom
Rukun
05
Melakukan niat di tempat miqot
Wajib
05
Bertalbiyah
Sunnah
06
Thawaf
Rukun
07
Sa’i
Rukun
08
Tahallul
Rukun

Tidak ada komentar :

Posting Komentar