HIKMAH DALAM IBADAH UMROH
Hikmah adalah makna yang terkandung dalam
amalan fisik atau rahasia yang tersirat di balik amalan fisik. Syariat
adalah amalan dhahir. Hakikat adalah intinya. Jika setiap amalan menyatu
antara hakikat dan syariatnya akan mewujudkan hasil yang menakjubkan.
Agar ibadah umroh dapat meningkatkan kualitas keimanan
seseorang, maka selayaknya hikmah umroh dicermati oleh setiap orang yang
menunaikannya.
Kewajiban Ibadah umroh mengandung
banyak hikmah besar dalam kehidupan rohani seorang muslim, dan tentunya
mengandung kemaslahatan bagi seluruh ummat Islam dari segi dunia dan akhirat.
Diantara hikmah itu nampak ketika kita melakukan proses ibadah umroh itu
sebagai berikut:
<![if !supportLists]>1. <![endif]>IHROM
Ihrom berarti mengharamkan, mengalalkan dan
memasuki tanah suci. Ihrom mengisyaratkan
keharusan untuk melepaskan sifat-sifat buruk, seperti bangga dengan pakaian
yang biasanya melekat di tubuh kita, yang melahirkan sifat sombong, bangga dan takabbur,
maka dengan berpakaian Ihram menggambarkan betapa hina dan miskinnya kita
dihapan Allah SWT, mengingatkan kita bahwa sesungguhnya kita lahir tanpa busana
sama sekali dan ketika kita meninggal kita pun hanya di bungkus pakaian yang
tak berjahit.
Ketika berihram maka bukan hanya pakaian kita yang ihram tapi sesungguhnya tubuh hati serta tingkah laku kita turut pula berihram, setelah tubuh kita meninggalkan kemewahan maka tubuh yang ihram pun meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tercela, mulut kita harus dibatasi dengan hanya mengucapkan kalimat-kalimat dzikir, yang tentunya menghindar dari kata-kata yang membawa kepada sifat fasik, pertengkaran bahkan kalimat yang mubah tapi tidak membawa faedah. Sungguh sebuah penempaan diri yang luar biasa.
Ketika berihram maka bukan hanya pakaian kita yang ihram tapi sesungguhnya tubuh hati serta tingkah laku kita turut pula berihram, setelah tubuh kita meninggalkan kemewahan maka tubuh yang ihram pun meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tercela, mulut kita harus dibatasi dengan hanya mengucapkan kalimat-kalimat dzikir, yang tentunya menghindar dari kata-kata yang membawa kepada sifat fasik, pertengkaran bahkan kalimat yang mubah tapi tidak membawa faedah. Sungguh sebuah penempaan diri yang luar biasa.
Dengan memahami
makna simbol “pakaian ihram” diharapkan para hujjaj/mu’tamirin setelah
pulang dari tanah suci tidak lagi melakukan larangan-larangan agama atau dengan
kata lain, para hujjaj/mu’tamirin seharusnya melarang dan mengharamkan dirinya
dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
<![if !supportLists]>2. <![endif]>THAWAF
Thawaf merupakan rukun yang tidak mudah
ditangkap simbolisme yang terkandung di dalamnya. Bergerak mengelilingi Ka’bah
tujuh kali, memiliki makna yang sangat dalam bagi hidup dan kehidupan setiap
manusia dalam totalitas dimensinya, bukan hanya dalam konteks ritual atau
kepentingan akhirat semata.
Tawaf mengandung
makna bahwa gerak hidup setiap manusia, bukanlah sekedar untuk hidup itu
sendiri, melainkan segala gerak hidup itu terjadi dan menuju kepada Allah SWT.
Allah SWT sebagai pusat pusaran gerak manusia, sebagai pusat orbit gerakan
kehidupan manusia.
Thawaf
dilakukan dengan penuh penghayatan akan kehadiran Allah SWT, berzikir , berdoa
dan memohon ampun kepada-Nya. Ini melambangkan agar setiap manusia harus selalu
beribadah kepada Allah SWT dengan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap hari,
mengingat kepada-Nya, berzikir, berdoa dan memohon ampun kepada-Nya.
Mengecup batu hitam tersebut juga merupakan lambang bahwa
ibadah harus dilakukan dengan penuh kecintaan kepada Allah SWT. Ibadah
dilakukan bukan untuk tujuan dunia, bukan tujuan sementara tetapi hanya dengan
tujuan mengharapkan keridhaan Allah SWT dengan penuh rasa cinta kepada-Nya.
Sebagaimana tawaf yang dilakukan sebanyak tujuh kali ini.
<![if !supportLists]>3. <![endif]>SA’I
Sa’i berarti
bertindak, berbuat, berusaha (berikhtiar), sedangkan Shafa berarti suci,
bersih dan Marwah berarti santun. Kalau kita gabungkan dari ketiga kata
tersebut di atas, maka memiliki makna bertindak, berbuat dan berusaha dengan
cara yang bersih dan santun untuk mendapatkan sesuatu.Menurut sejarah, Sa’i
dari bukit Shafa dan Marwah dilakukan pertama kali oleh Siti Hajar, istri Nabi
Ibrahim as. Pada
saat itu, ia ingin mendapatkan air untuk anaknya, Ismail yang sedang menangis.
Setelah 7 kali bolak-balik antara Shafa dan Marwah baru mendapatkan air
tersebut.
<![if !supportLists]>4.
<![endif]> TAHALLUL
Sa’i adalah pembebasan, pelepasan,
pembolehan, penghalalan, pengampunan, dll. Tahallul dilakukan dengan
menggunting atau mencukur sebagian rambut sekurang-kurangnya 3 helai. Secara
syar’i, tahallul berarti membolehkan atau menghalalkan segala sesuatu yang sebelumnya
dilarang karena berihram.
Secara filosofis, kewajiban bercukur
dalam rangkaian ibadah umroh adalah
sebuah penghalalan akan sesuatu yang tadinya haram. Keharaman sesuatu itu
terletak di dalam pikiran yang ada di kepala kita. Rambut adalah salah satu simbol
akan realita pertumbuhan makhluk, sekaligus menjadi petunjuk bahwa asal dari
sesuatu yang terjerat dalam hukum pertumbuhan adalah haram.
Pesan yang
disampaikan dalam pemotongan rambut itu adalah sebuah kesadaran akan adanya
Tuhan yang menjadi asal muasal manusia, “sesungguhnya kita milik-Nya dan akan
kembali kepada-Nya” (innaa lillaahi wa-innaa ilayhi raaji’uun). Karena itu, potonglah sesuatu yang
tumbuh (berupa rambut) sebagai simbolisasi dari ketuntasan ibadah umroh yakni kesadaran tertinggi manusia
tentang Tuhan.
Semoga dengan rontoknya ribuan rambut
di kepala ketika ia bertahallul, maka rontok juga ribuan keangkuhan dan
kesombongannya. Kemabrurannya membawa berkah bagi sekalian alam dan lingkungan
sekitarnya. Amiin…
Surat
al-Fath ayat 27 :
لَقَدْ صَدَقَ اللهُ رَسُوْلَهُ
الرُّأْياَ بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ اْلمَسْجِدَ اْلحَرَامَ إِنْ شَآءَ اللهُ
آمِنِيْنَ مُحَلِّقِــــــــْينَ رُؤُوْسَكُمْ وَمُقَـــــصِّرِيْنَ لاَ
تَخَافُوْنَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذَالِكَ
فَتْــــــحًا قَرِيْبًا
Artinya:
“Sesungguhnya
Allah telah membenarkan Rasul-Nya tentang kebenaran mimpi yang akan menjadi
kenyataan, yaitu engkau beserta penduduk Makkah lainnya akan memasuki kota Makkah
Insya Allah dengan aman dalam keadaan kepala yang sudah dicukur rata atau
sekedar dipendekkan saja, tanpa rasa takut (terhadap kaum musyrik), Dia (Tuhan)
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui itu, dan menjadikan di balik (yang tidak
kamu ketahui) itu, kemenangan dalam waktu dekat”.
IBADAH UMROH
Umroh : berkunjung ke Baitullah Ka’bah untuk
melakukan thawaf, sa’i dan Tahallul/bercukur.
<![if !supportLists]>1.
<![endif]>Syarat Wajib Umroh:
<![if !supportLists]>a. <![endif]>Islam
<![if !supportLists]>b. <![endif]>Baligh
<![if !supportLists]>c. <![endif]>Berakal sehat
<![if !supportLists]>d. <![endif]>Merdeka (tidak budak sahaya)
<![if !supportLists]>e. <![endif]>Mampu.
<![if !supportLists]>1) <![endif]>Kendaraan
<![if !supportLists]>2) <![endif]>Bekal materi
<![if !supportLists]>3) <![endif]>Keamanan jiwa dan harta
<![if !supportLists]>4) <![endif]>Fisik
<![if !supportLists]>5) <![endif]>Cukup waktu
<![if !supportLists]>2.
<![endif]>Rukun Umroh :
<![if !supportLists]>a.
<![endif]>Niat
<![if !supportLists]>b.
<![endif]>Thawaf
<![if !supportLists]>c.
<![endif]>Sa’i
<![if !supportLists]>d.
<![endif]>Tahallul
/Bercukur
<![if !supportLists]>1) <![endif]>Lafadh niat umroh :
نَوَيْتُ
العُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهَا لِلَّهِ تَعاَلَى
Nawaitul
umrata wa achramtu biha lillahi ta’ala.
<![if !supportLists]>2) <![endif]>Thawaf adalah mengelilingi Ka’bah
sebanyak 7 putaran dimulai dan berakhir di sudut Hajar Aswad
<![if !supportLists]>3) <![endif]>Sa’i adalah menempuh jarak antara bukit
shafa sampai bukit Marwa 7 putaran, dimulai dari shafa dan berakhir di marwa
<![if !supportLists]>4) <![endif]>Tahallul umroh ialah keadaan seseorang
telah menjadi halal kembali dari larangan ihrom setelah selesai menjalankan
semua rukun umroh yang ditandai dengan
mencukur rambut kepala minimal 3 helai rambut yang dilakukan setelah selesai
menjalani sa’i.
Rukun
tersebut harus dilakukan berurutan (tertib)
THAWAF
<![if !supportLists]>1. <![endif]>Wajib
Thawaf:
<![if !supportLists]>a. <![endif]>Suci dari hadas dan najis
<![if !supportLists]>b. <![endif]>Menutup aurat
<![if !supportLists]>c. <![endif]>Niat
<![if !supportLists]>d. <![endif]>Menyempurnakan 7 putaran
<![if !supportLists]>e. <![endif]>Berawal dan berakhir di sudut Hajar Aswad
<![if !supportLists]>f. <![endif]>Ka’bah berada di sebelah kiri
<![if !supportLists]>g. <![endif]>Di dalam Masjid
<![if !supportLists]>h. <![endif]>Anggota badan dan pakaian berada di
luar batas Ka’bah dan Hijr Isma’il
<![if !supportLists]>2. <![endif]>Sunnah
Thawaf ;
<![if !supportLists]>a. <![endif]>Berkesinambungan antara satu putaran
dengan putaran berikutnya
<![if !supportLists]>b. <![endif]>Berjalan kaki bagi yang mampu
<![if !supportLists]>c. <![endif]>Menyelendangkan kain ihrom di pundak
kiri dengan pundak kanan terbuka ( bagi pria )
<![if !supportLists]>d. <![endif]>Berjalan cepat bagi pria pada 3 ( tiga
) putaran pertama untuk thawaf yang diikuti Sa’i
<![if !supportLists]>e. <![endif]>Mencium Hajar Aswad / mengusap atau
isyarat dengan tangan dan menciumnya
<![if !supportLists]>f. <![endif]>Mengusap atau berisyarat pada Rukun ( sudut ) Yamani
<![if !supportLists]>g. <![endif]>Dzikir dan berdo’a.
<![if !supportLists]>h. <![endif]>Shalat dua raka’at dan berdo’a di
belakang Maqam Ibrahim.
SA’I
<![if !supportLists]>1. <![endif]>Syarat
Wajib Sa’i ;
<![if !supportLists]>a. <![endif]>Setelah Thawaf yang sah
<![if !supportLists]>b. <![endif]>Memulai Sa’i dari bukit Shafa dan
berakhir di bukit Marwa.
Dari
shafa ke marwa terhitung 1 kali dan dari marwa ke shofa terhitung 1 kali
<![if !supportLists]>c. <![endif]>Berada di Mas’a (Tempat Sa’i )
<![if !supportLists]>d. <![endif]>Berniat Sa’i (tidak untuk kepentingan
lain)
<![if !supportLists]>2. <![endif]>Sunnah
Sa’i ;
<![if !supportLists]>a.
<![endif]>Suci
<![if !supportLists]>b.
<![endif]>Berdzikir
dan berdo’a
<![if !supportLists]>c.
<![endif]>Berkesinambungan
<![if !supportLists]>d.
<![endif]>Lari-lari
kecil (bagi pria) antara dua pilar hijau
TAHALLUL
Tahallul umroh ialah keadaan seseorang telah menjadi
halal kembali dari larangan ihrom setelah selesai menjalankan semua rukun umroh
yang ditandai dengan mencukur rambut
kepala minimal 3 helai rambut yang dilakukan setelah selesai menjalani sa’i.
Disunnahkan
untuk bapak mencukur rambut kembali secara keseluruhan dalam melakukan
tahallul.
WAJIB UMROH
WAJIB UMROH ADA 2:
<![if !supportLists]>1. <![endif]>Niat
Ihrom dari miqat.
Miqat
ialah tempat dan waktu untuk melakukan ihrom.
Miqat
ada 2 yaitu makani dan zamani
<![if !supportLists]>a.
<![endif]>Miqat zamani, batas untuk menjalani
umroh dan nusuk.
Miqat
zamani umroh ialah sepanjang masa selama tidak sedang menajalani kewajiban
haji.
<![if !supportLists]>b.
<![endif]>Miqat makani adalah batas tempat untuk
memulai ihrom.
Miqat makani ada 2 yaitu: makki &
ufuqi.
<![if !supportLists]>1) <![endif]>Makki adalah
orang yang berada di Makkah ( penduduk
makkah muqimin atau jama'ah yang berada di makkah.
Miqat
makani umroh bagi orang yang berada di makkah ialah keluar dari tanah haram, utamanya
di tempat miqat sbb:
<![if !supportLists]>a)
<![endif]>Ji'ranah
<![if !supportLists]>b)
<![endif]>Hudaibiyyah
<![if !supportLists]>c)
<![endif]>Tan'im.
<![if !supportLists]>2) <![endif]>Ufuqi adalah
jama'ah yang datang dari luar makkah.
Miqot
makani umroh bagi ufuqi adalah :
<![if !supportLists]>a)
<![endif]>Bir ali, bagi jama'ah yang datang dari
Madinah.
<![if !supportLists]>b)
<![endif]>Qarnul manazil/diatas pesawat +
1 jam sebelum mendarat di Air port King Abdul Aziz Jeddah dan tempat lain seperti Juhfah, yalamlam,
Dzatu irqin.
<![if !supportLists]>2. <![endif]>Menjauhi
larangan – larangan ihrom.
SUNNAH
UMROH
<![if !supportLists]>1. <![endif]>Berdo’a setelah talbiyah
<![if !supportLists]>2. <![endif]>Berdzikir / do’a di saat thowaf dan
sa’i
<![if !supportLists]>3. <![endif]>Memakai dua helai pakaian ihrom warna
putih.
Catatan
Macam-macam
Thawaf :
<![if !supportLists]>1.
<![endif]>Thawaf
Qudum
Thawaf qudum merupakan penghormatan
terhadap Baitullah, thawaf qudum. Thawaf qudum hukumnya sunnah. Waktu
pelaksanaan thawaf qudum pada hari pertama kedatangan di Makkah.Bagi jama’ah
umroh tidak disunnahkan thawaf qudum karena thawaf qudumnya sudah termasuk
dalam thawaf umroh pertama.
<![if !supportLists]>2.
<![endif]>Thawaf
Rukun Umroh
<![if !supportLists]>3.
<![endif]>Thawaf
Rukun haji
Thawaf rukun haji disebut juga thawaf
ifadlah atau thawaf ziarah
<![if !supportLists]>4.
<![endif]>Thawaf
Sunnah
Thawaf sunah merupakan thawaf yang dapat
dikerjakan pada setiap kesempatan dan tidak diikuti dengan sa’i
<![if !supportLists]>5.
<![endif]>Thawaf
Wada’
Thawaf Wada’ merupakan penghormatan akhir
pada Baitullah. Waktu pelaksanaan thawaf wada’ setelah ada ketentuan untuk
meninggalkan Makkah. Hukum melakukan thawaf wada’ adalah wajib bagi jamaah haji
yang akan meninggalkan Makkah. Bagi jamaah haji yang tidak melakukan thawaf
wada’ diwajibkan membayar dam kambing kecuali wanita haidl tidak wajib thawaf
wada’
IHROM & MUHARROMATUL IHROM
<![if !supportLists]>1. <![endif]>Ta'rif
Ihrom
Ihrom ialah: Niat memasuki ibadah haji
atau Umroh pada waktu dan tempat yang telah ditentukan dengan mengharamkan hal-hal
yang dilarang selama berihrom.
(Niat Umroh)
نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَاَحْرَمْتُ بِهِا ِللهِ
تَعَالىَ
Waktu dan tempat berihrom disebut MIQAT.
Istilah ihrom sering diartikan dengan
menyandang dua lembar kain yang tak berjahit bagi lelaki , karena awal
dimulainya berhaji atau Umroh adalah dengan menyandang dua lembar kain yang tak
berjahit dan memakai pakian yang menutup seluruh anggota tubuh kecuali muka dan
dua telapak tangan
bagi wanita.
<![if !supportLists]>2. <![endif]>Tata
Cara Berihrom
<![if !supportLists]>a. <![endif]>Wajib Ihrom
<![if !supportLists]>1. <![endif]>Menempatkan niat di tempat Miqat
<![if !supportLists]>2. <![endif]>Berpakaian tak berjahit bagi pria
<![if !supportLists]>3. <![endif]>Menutup
semua tubuh kecuali muka & telapak tangan bagi wanita.
<![if !supportLists]>b. <![endif]>Sunnah Ihrom
Beberapa langkah yang dilakukan bagi
orang yang hendak berihrom sebagai berikut :
<![if !supportLists]>- <![endif]>Membersihkan anggota badan :
<![if !supportLists]>ü <![endif]>Memotong kuku
<![if !supportLists]>ü <![endif]>Memotong kumis
<![if !supportLists]>ü <![endif]>Membersihkan rambut ketiak
<![if !supportLists]>ü <![endif]>Membersihkan bulu kemaluan
<![if !supportLists]>ü <![endif]>Mandi, walau dalam kondisi haid atau
nifas
لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ وَهِىَ نُفَسَاءُ اَنْ
تَغْتَسِلَ ( رواه مسلم )
Liannannabiyya
SAW amara Asmaa binti Umaisin Wahiya nufasau antaghtasila ( HR. Muslim)
Kerana sesungguhnya nabi memerintahkan Asma bt. Umais
untuk mandi ihrom ketika dia sedang dalam keadaan nifas.
<![if !supportLists]>- <![endif]>Memakai wangi-wangian pada badan
sebelum mengenakan
pakaian
ihrom
<![if !supportLists]>- <![endif]>Memakai pakaian ihrom warna putih dan
baru
وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ
اللهُ عَنْهُ : اَنَّ رَسُـْولَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلْبِسُوْا مِنْ ثِيَابِكُمُ البَيَاضَ
فَاِ نَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوْا فِيْهَا مَوْتَاكُمْ (رواه
الترمذي)
Ruwiya
anibni Abbasin radliyallahu ‘anhu: anna
rasulallahi SAW qala : Albisu min tsiyabikumul bayadl fainnaha min khairi
siyabikum wakaffinu fiha mautakum. ( HR. Attirmidzi )
Diriwayatkan
dari ibni Abbas RA sesungguhnya rasulullah SAW berkata: Berpakaianlah dari
pakaian putihmu sesungguhnya pakain
warna putih adalah pakaian terbaik bagimu dan kafanilah jenazahmu dengan warna
putih. HR.Tirmidzi.
<![if !supportLists]>- <![endif]>Memakai alas kaki yang tidak menutupi
tumit dan ujung jari - jari
<![if !supportLists]>- <![endif]>Merapikan rambut kepala
<![if !supportLists]>- <![endif]>Shalat sunnat ihrom 2 rakaat
<![if !supportLists]>- <![endif]>Bertalbiyah yang diucapkan setalah
niat.
Lafadl talbiyah
لبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ¹ لَبَّيْكَ لاَ
شَريْكَ لَكَ لبَّيْكَ¹ إنَّ الحَمْدَ والِّنعْمَةَ لكَ وَالُملْكَ لاَ شَرِيْكَ لَك¹
Labbaikallahummalabaik, labbaika la
syariika laka labaik Innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa syarikala lak.
Artinya: Aku penuhi panggilannmu ya
Allah. Tiada sekutu bagimu. Sesungguhnya segala puji dan keni’matan serata kerajaan adalah milikmu.
<![if !supportLists]>3. <![endif]>Hal –
hal Yang diperbolehkan dalam berihrom.
Selama
berihrom boleh – boleh saja melakukan tindakan
sebagai berikut:
<![if !supportLists]>a.
<![endif]>Mandi,
dengan tetap menjaga larangan – larangan ihrom
<![if !supportLists]>b.
<![endif]>Mengganti
pakaian ihrom karena alasan apapun
<![if !supportLists]>c.
<![endif]>Berteduh
di bawah pohon, payung atau hal – hal yang dapat smelindungi diri
<![if !supportLists]>d.
<![endif]>Memakai
sabuk ihrom, tas pinggang untuk menyimpan barang berharga, jam tangan, cincin
selain emas bagi laki – laki
<![if !supportLists]>e.
<![endif]>Membunuh
hewan yang mengganggu seperti ular, tikus, kala jengking.
<![if !supportLists]>4. <![endif]>Larangan
Ihrom
<![if !supportLists]>a. <![endif]>Jenis
larangan Ihrom
<![if !supportLists]>1) <![endif]>Itlaf.
Italf adalah
pelanggaran ihrom yang besifat merusak seperti memotong rambut, memotong kuku.
<![if !supportLists]>2) <![endif]>Taraffuh
adalah pelanggaran ihrom yang bersifat kesenangan
seperti berwangian.
Larangan
ihrom yang berupa itlaf baik disengaja atau tidak dan mengerti hukumnya atau
tidak tatap dikenakan dam / fidyah. Jika disengaja ia berdosa dan jika tidak
disengaja tidak berdosa. Larangan yang bersifat taraffuh jika dilakukan karena
lupa atau tidak mengerti hukumnya maka tidak berdosa dan tidak terkena dam /
fidyah. Jika disengaja berdosa dan dikenakan dam/fidyah. Jika karena udzur
semisal sakit maka tidak berasa tetapi terkena dam/fidyah.
Catatan:
<![if !supportLists]>a.
<![endif]>Larangan
yang membatalkan umroh dan dikenakan dam, yaitu bersetubuh dengan istri/suami
sebelum melaksanakan tahallul
<![if !supportLists]>b.
<![endif]>Larangan
yang tidak membatalkan umroh tetapi dikenakan dam atau fidyah, yaitu semua
larangan ihrom selain yang disebut di atas, dikerjakan dengan sengaja dan
mengerti hukumnya
<![if !supportLists]>c.
<![endif]>Larangan
yang tidak membatalkan dan tidak dikenakan dam/fidyah, seperti mengumpat,
rafas, fusuq,jidal maksiat tetapi
mengurangi nilai kemabruran haji/umroh.
<![if !supportLists]>5. <![endif]>Hal –
hal yang harus dihindari selama berihrom
<![if !supportLists]>a.
<![endif]>Khusus
untuk pria.
<![if !supportLists]>1) <![endif]>Memakai pakain yang berjahit meliputi
badan
<![if !supportLists]>2) <![endif]>Menutup kepala yang melekat, seperti
topi. Kalau tidak
melekat boleh, seperti payung.
<![if !supportLists]>3) <![endif]>Memakai sepatu yang menutup tumit dan
ujung jari.
<![if !supportLists]>b.
<![endif]>Khusus
Wanita
<![if !supportLists]>1) <![endif]>Menutup wajah
<![if !supportLists]>2) <![endif]>Memakai sarung tangan.
<![if !supportLists]>c.
<![endif]>Untuk
pria & Wanita
<![if !supportLists]>1) <![endif]>Jima' dan tindakan yang mengundang
syahwat, berupa gerakan atau ucapan
فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوْقَ وَلاَ جِدَالَ فِى
الْحَجِّ ( البقرة 198)
Falaa rofatsa walaa fusuuqo walaa
jidala filhajj
Artinya: Dalam berhaji tidak boleh
rafas, fusuk dan tidak pula jidal.
<![if !supportLists]>2) <![endif]>Aqad nikah, jika orang berihrom
melakukan aqad nikah maka nikahnya batal
<![if !supportLists]>3) <![endif]>Memotong kuku dan mencukur /mencabut
rambut
وَلاَ تَحْلِقُوْا رُؤُسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ
الْهَدْيُ مَحِلَّهُ.
Wala
tahliqu ruusakum hatta yablughalhadyu mahillah
Dan
janganlah mencukur rambutmu sampai melaksanakan penyembelihan kambing hadyu.
<![if !supportLists]>4) <![endif]>Memakai wangi-wangian
<![if !supportLists]>5) <![endif]>Berburu binatang buruan hewan darat
liar yang halal dimakan
<![if !supportLists]>6) <![endif]>Merusak ( memotong, mencabut ) tanaman
tanah harom
اِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَـرَّمَهُ اللهُ تَعَالىَ وَلاَ
َيُعْضَدُ شَوْكُهُ وَلاَ يُنْفَـرُصَيْدُهُ وَلاَ يُلْتَقَطُ لُقَطَتُهُ اِلاَّ
مَنْ عَرَّفَهَا متفق عليه
Sesungguhnya
daerah ini Allah SWT telah mengharamkannya (memulyakan ), tidak boleh dipotong
tanamannya dan tidak boleh diusir hewan buruannya dan tidak boleh ditemu harta
temuannya kecuali bermaksud mengumumkannya.
<![if !supportLists]>7) <![endif]>Memakai minyak rambut kepala dan
jenggot meskipun tidak wangi
DAM & KIFARAT
Dam
dalam arti bahasa adalah darah, dalam arti istilah adalah mengalirkan darah
dengan cara menyembelih ternak berupa
kambing, sapi, unta di tanah harom dalam rangka memenuhi ketentuan
manasik haji atau umroh.
Dam
terdiri dari 2 jenis yaitu:
<![if !supportLists]>a. <![endif]>Dam Nusuk ( karena ketentuan manasik
dan bukan karena pelanggaran) dikenakan bagi yang melakukan haji tamattu’ atau
qiron.
<![if !supportLists]>b. <![endif]>Dam isa’ah adalah dam yang diwajibkan
akibat pelanggaran larangan ihrom.
Macam-macam
Dam:
<![if !supportLists]>1. <![endif]>Tartib Taqdir;
Tartib
artinya berurutan, tidak boleh memilih yang ke dua kecuali jika tidak mampu
pada yang pertama.
Taqdir
artinya sudah ditentukan, tidak boleh diganti dengan nilai/harga dan tidak
boleh ditambah atau dikurangi.
Dam
Tartib Taqdir adalah memotong seekor kambing, jika tidak mampu, maka berpuasa 3
(tiga) hari dalam keadaan berihrom haji, dan 7 (tujuh) hari setelah pulang di
tanah air.
<![if !supportLists]>2. <![endif]>Tartib Ta’dil;
Tartib
artinya dam dilakukan dengan tertib, jika dapat memilih yang pertama atau
sebanding lainnya.
Ta’dil
artinya dinilai dengan sebanding yang lain.
<![if !supportLists]>3. <![endif]>Takhyir Ta’dil;
Takhyir
artinya boleh memilih antara memotong hewan dam dan digantikan dengan memberi
makan kepada fakir miskin makkah senilai dengan hewan tersebut.
Ta’dil
artinya dinilai dengan sebanding yang lain.
Dam
Takhyir Ta’dil adalah memilih antara memotong hewan yang telah ditentukan atau
menilainya dengan uang dan membelikannya makanan kemudian memberikannya kepada
fakir miskin Makkah.
<![if !supportLists]>4. <![endif]>Takhyir Taqdir;
Takhyir
artinya memilih ke hal yang lain meskipun mampu.
Taqdir
artinya sudah ditentukan, tidak boleh ditambah atau dikurangi.
Dam
Takhyir Taqdir adalah memilih antara memotong kambing atau bersedekah 3 Sha’
(7,5 kg) untuk 6 orang atau puasa 3
hari.
Penyebab
Dam
<![if !supportLists]>1. <![endif]>Tartib Taqdir; Tamattu’, Qiran, tidak
wuquf di Arafah, tidak berihrom
dari miqat, tidak mabit di Muzdalifah, tidak mabit di Mina, tidak melontar
Jumroh, tidak melakukan thawaf wada’ dan
meninggalkan perintah ( kewajiban ).
<![if !supportLists]>2. <![endif]>Tartib Ta’dil; Tidak bisa meneruskan
ibadah umroh dan bersetubuh sebelum tahallul
<![if !supportLists]>3. <![endif]>Takhyir Ta’dil; Membunuh binatang
buruan darat dan memotong tanaman tanah haram.
Takhyir
Taqdir, Bercukur, memotong kuku, memakai wangi-wangian, memakai minyak rambut,
memakai pakaian berjahit (meliput) . Keterangan :
<![if !supportLists]>1.
<![endif]>Waktu pelaksanaan Dam
<![if !supportLists]>a. <![endif]>Waktu pelaksanaan dam dimulai sejak selesai umroh
<![if !supportLists]>b. <![endif]>Penyembelihan dam wajib dilakukan hanya
di tanah harom Makkah dan dibagikan kepada fakir miskin yang berada di makkah.
Dam tidak sah disembelih di luar tanah haram Makkah.
<![if !supportLists]>2.
<![endif]>Syarat Dam umroh
<![if !supportLists]>a. <![endif]>Bukan penduduk Makkah
<![if !supportLists]>b. <![endif]>Umroh dilaksanakan dalam bulan haji dan
tidak kembali ke miqot sampai pelaksanaan ibadah haji
Urutan Pelaksanaan Umroh
|
N0
|
Kegiatan
|
Hukum
|
|
01
|
Bersuci / Mandi
Ihrom
|
Sunnah
|
|
02
|
Shalat Sunnat
Ihrom
|
Sunnah
|
|
03
|
Berpakaian Ihrom
|
Wajib
|
|
04
|
Berpakaian ihrom
warna putih
|
Sunnah
|
|
04
|
Niat Ihrom
|
Rukun
|
|
05
|
Melakukan niat
di tempat miqot
|
Wajib
|
|
05
|
Bertalbiyah
|
Sunnah
|
|
06
|
Thawaf
|
Rukun
|
|
07
|
Sa’i
|
Rukun
|
|
08
|
Tahallul
|
Rukun
|